Jihad Fisabilillah..!!

Saturday, 17 November 2012

Pray for Gaza

Bismillahirrahmanirrahim...subhanallah, alhamdulillah, lailahaillallah, allahuakbar...!!
Segala puji bagi Allah yang masih lagi x putuskan nikmat utk kita, nikmat terbesar iaitu nikmat iman & islamsyukur kpd Allah... Alhamdulillah jgk, hari ni ana masih dikurniakan nikmat sihat dan masa lapang utk mengisi ruang blog yg sekian lama 'tertinggal'...dek kesibukan exam...Sekarang dunia sibuk berbincang tentang gaza,ana pasti sudah ramai di luar sana yang tahu isu ini..wajib kita ambik tahu tentang isu umat islamsabda Nabi SAW : "siapa yang berpagi-pagi x mengambil tahu hal umat islam, maka dia bukanlah dari golonganku"sahabat2 yg ana kasihi, saudara kita di gaza merintih, meratap dan menangis...sibuk memerangi tentera israil la'natullah..tanya pada diri, apa yg kita sumbangkan untuk islam?
Perhatikan hidup kita jauh berbeza dgn kehidupan di gaza
 di   malaysia hidup mewah, minta itu dan ini pasti ditunaikan oleh inu bapa..tapi adakah kita fikir dalam masa yang sama apakah nasib saudara kita di sana??mereka hari2 bertemankan air mata, darah..tiap2 hari mendengar khabar kematian keluarga...sahabat2, walau pun kita x mampu mengangkat senjata utk sama2 memerangi musuh Allah, ana minta kita sama2 luangkan masa menadah tangan berdoa utk saudara kita..ingatlah doa senjata mu'min..di bawah ni ana titipkan doa yg ana share dr FB..harap boleh sama2 amalkan tiap2 kali usai solat fardhu..insyaAllah..=]





Do'a untuk GAZA, Palestine
.اللَّهُمَّ انصُرِ الإِسلام والمْسُلِمِينَاللَّهُمَّ انصُرِ
 المْسُلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ(اللَّهُمَّ انصُرِ المْسُلِمينَ فِي فَلَسطِين
اللَّهُمَّ دَمَّر الكفَارَ واليَهُـودَ والنَّصَارَى والمْشُرِكِينَ
اللَّهُمَّ يَا اللّـه يَا اللّـه يَا اللّـه إِهزِمهُم وَانصُرناَ عَلَيهِم
Wahai Tuhan kami,
Berilah kemenangan kepada Islam dan Muslimin,
Ya Tuhan kami,
Berilah kemenangan kepada Muslimin di semua tempat,Ya Tuhan kami,
Berilah kemenangan kepada orang Islam di Palestin (3x),
Ya Tuhan kami,
Hancurkanlah Kuffar, Yahudi, Nasrani dan Musyrikin,
Ya Allah,
Ya Allah,
Ya Allah,
Ya Tuhan kami,
Kalahkan mereka, Dan menangkan kami ke atas mereka.
Aamiin

Friday, 26 October 2012

SEJARAH AIDIL ADHA


Assalamualaikum sahabat...hee...lame x update blog...taw2 dh raye aji...jadi, d ksmpatan ini, ana nk ucapkan Salam Aidiladha kepada semua umat muslimin & muslimat x kira dimana jua anda berada, di pelosok negara mane pun anda beraya...semoga aidiladha tahun ini membuatkan kita semua lbih mngenali apa itu erti sebuah pngobanan...
ehem2...cukup sekadar itu muqaddimahnya...jadi smpena aidiladha, ana nk kongsi satu kisah...
"SEJARAH AIDILADHA"...ana pn copy paste jgk..same2 kita kongsi ilmu...selamat menghayati semua!!!

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya.

“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.

Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".

Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”

Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah(artinya, berpikir/merenung).

Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.

Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.

Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.

Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.

“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.

“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.

Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.

“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.

“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.

“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.

“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.

“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.

Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”

“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.

“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.

Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.

Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.

Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”

“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.

Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”

Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.

Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”

Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.

Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)

Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Thursday, 7 June 2012

Tuntutlah Ilmu & Amalkannya...

Hadis Sahih Bukhari Jilid 1. Hadis Nombor 0076.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. katanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Allah tidak menarik kembali ilmu pengetahuan dengan jalan mencabutnya dari hati sanubari manusia, tetapi dengan jalan mematikan orang-orang berpengetahuan (ulama). Apabila orang berpengetahuan telah punah, maka masyarakat akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya. Orang-orang bodoh ini akan berfatwa tanpa ilmu; mereka itu sesat dan menyesatkan."
 
   
Hadis Sahih Bukhari Jilid 2. Hadis Nombor 0612.
Dari Jabir bin Abdullah r.a., katanya: "Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami solat istikharah untuk segala urusan, seperti dia mengajarkan kepada kami surat Al Quran; Sabda beliau: "Apabila seseorang kamu hendak melakukan sesuatu pekerjaan, lebih dahulu hendaklah ia solat dua rakaat yang bukan fardu, kemudian membaca doa: "Allahumma inni astakhairuka bi'ilmika waastaqdirukabi qudratika waas-aluka min fadhlikal 'azhim; Fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wata'lamu wa laa a'lamu wa anta 'allamul ghuyuub. Allaahumma inkunta ta'lamu anna haadzal amra khairun lii fii diinii wa ma'aasyi wa 'aaqibatu amri ('ajili amri wa aajilihi faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarik lii fiihi. Wa inkunta ta'lamu anna haadzal amra syarrun lii fii diini wa ma'aasyi wa 'aaqibatu amrii ('ajili amri wa aajilihi) fashrifhu 'annii washrifnii 'anhu waqdur liyal khaira haitsu kaana tsummaardhini." (Wahai Allah! Sesungguhnya aku mohon pilihan kepada Engkau dengan ilmu Engkau, dan mohon kuasa kepada Engkau dengan kekuasaan Engkau, dan aku meminta kepada Engkau kurniaMu yang Maha Agung. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa, sedangkan aku tidak kuasa. Dan Engkau Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Dan Engkau Maha Tahu segala yang ghaib. Wahai, Allah! Jika menurut pengetahuanMu pekerjaan ini baik bagi agamaku, bagi kehidupanku, dan akibat kesudahannya, maka berilah aku kesanggupan untuk melaksanakannya serta mudahkanlah dia bagi ku, kemudian berikan berkat bagi ku padanya. Dan jika menurut pengetahuanMu pekerjaan ini tidak baik bagi agama, kehidupan serta akhir kesudahannya, maka singkirkanlah dia dari ku, dan jauhkanlah aku daripadanya, serta tukarlah bagi ku dengan yang lebih baik daripadanya, kemudian redhailah dia bagiku."
 

Hadis Sahih Bukhari Jilid 1. Hadis Nombor 0059.
Abdullah bin Mas'ud r.a. mengatakan bahawa Rasulullah saw. bersabda, "Jangan merasa iri hati, kecuali kepada dua orang: 1. Orang yang diberi Allah harta, kemudian dipergunakannya untuk yang hak, dan 2. Orang yang diberi Allah hikmah (ilmu yang hak), kemudian dipergunakannya (untuk yang hak) serta diajarkannya."